Kamis, 22 Desember 2011

SASTRA DAN PEMBELAJARAN SEJARAH Prof.(Em).Dr.RochiatiWiriaatmadja,M.A.



Pendahuluan
            Dalam struktur ilmu,sejarah dahulunya termasuk kelompok sastra karena memang sejak dahulu sejarah dituliskan dalam ungkapan yang tergolong sastra. Sebagai contoh, Jurusan Sejarah di Unpad termasuk fakultas sastra, disebut sebagai sejarah filologi,yakni mengkaji dokumen-dokumen sejarah lamamaupun baru. Pada zaman Yunan kuno,kisah tentang Perang Troya atau perjalanan pulang Odyseus lebih merupkan dongeng atau mitos yang tergolong sastra daripada penulisan sejarah.
            Dalam sejarah Indonesia, Ngerakertagamai atau syair kepalawanan I La Galigo, pararaton,atau hikayat raja-raja pasai ditulis dalam bentuk dongeng, mengandung perbuatan-perbuatan yang menuurt ukuran sekarang tidak masuk akal (luar biasa), dan mengikuti tradisi pola kesusastraan (Frederick dan Soeroto, 1982). Maka, para sejarawan llama berpendirian, bahwa untuk menghasilkan pertambahan kumulatif pengetahuan (sejarah), tidakperlu mengandalkan terus-menerus retorika yang oleh sarjana ilmupengetahuan alam dianggap tidakdapt diingkari dalammerumuskan dan menyamnpakan apa yang diketahuinya.
Secara positif,halite mengandung arti bahwa untuk menyampaikan apayang diktehuioleh para sejarawan,suatu retorika yang lebuh mneyerupai apayang digunakan dalamkesusteraan, daripada yang digunkan oleh ilmupengatahuan alam tidak saja diperbolehkan, tetapi sewaktu-waktu perlu diterapkan (Abdullah dan Surjomohardjo, 1953: 253).  Fakta-fakata di atas menunjukan bahwa penulisan sejarah dimasalalu lebih mementingkan dara pengungkapan yang harus mematuhi kaidah-kaidah sastra, daripad deskripsi peristiwa sejarahnya,apalagi anlisi ataukausalitasnya.

Pengaruh Aliran Positivisme
            Perubahan terjadipada masa enightennment atau Aufklarung atau zaman pencerahan.sebagai dampak dari revolusi Galilei,dillanjutkan oleh berkembnagnya rasionalisme Descartes dan aliran positivism comte, maka metode ilmiah yang dianggap sahih mengandung kebenaran universal, diakui sebagai metode ilmiah yang sesuai untukilmu-imu kealaman (astronomi, fisika, kimia,matematika). Terpengaruh oleh keberhasilan metode imiah ini,maka disipin ilmu-ilmu sosiaseperti sosiologi dan antropologi mengikuti jejaknya.
            Sejarahyang tadinya term,asuk sastra, jadimemakai m4tode heurmeneutika ataukajian dokumen /filologi,kemudian juga mengembangkan metode historis,diawali dnegan konsep Ranke: “Wie es eigentlich gewesen”, yang mengikuti kaidah-kaidah metode berpikir deduktif. Maka terjadi pergeseran,sejaruah masuk kedalamilmu-ilmu soisal. Dnegan peralihan ini,sejarah dan penelaitiannya, serta penulisan hasilpenelaitiannya harus mengikuti kaidah-kaidah pnelaitian dmeikian yang menggunkaan metode ilmiah dnegan memakai proposisi-proposisi seperti premis, asumsi dasar, hipoteis,pembuktian dengand ata empiric,penulisan hasipnelitian secara lugas dan krdibel. Validasi dan verifikasi penelitian diperlukan.analisis data kecuai memakai kaidah kausalitas,digunakan  juga bentuk analisis seperti mengukur pengaruh,klasifikasi,komparasi, dan teknik-teknik analisis data lainn7a dalampnelaitian positivistik.

Struktur Keilmuan
Naturwissenscahften                                                                       Geistewissenschaften
(Natural Philosophy)                                                                      (Moral philosophy)



Ilmu Kealaman                                                         Ilmu Sosial                            Humaniora 
(Natrual Sciensce)                                                  
Physical Scince        Biological science
Astronomi                 Botani                                     Antropologi                          Filsafat
Fisika                         zoology                                  sejarah                                                Agama
Kimia                         Biofisika                                hokum                                               bahasa
Matematika               Biokimia                                ekonomi                                sastra(Sejarah)
                                    Mikrobiologi                                    Sosiologi                                Seni
                                                                                    Geografi
                                                                                    Politik
                                                                                    Psikologi Sosial
(Suriasumantri, 1983, Dnegan modifikasi)
Sejarah Sebagai Pendidikan Nilai
            Sebagai disiplin ilmu yang sarat degan nilai, yang hanya dipahami dengan melalui versteheni (Max Weber) ditambah dnegan peran utama sejarah yaitu edukatif (Marwick,1976), maka deskripsi peristiwa sejarah yang disajikan dalambentuk laporan penelaitian yang lugas,kredibel, objektif, deperti halnya penelaitian fisika,matematika, dirasakan ada yang hilang dibaandingkan dnegan carapenulisan yang lama. Apakah itu “the sensesof drama,the flight imagination,or tehe chance speculation?. Cobalah anda rasakan dan simak!. History,kata Marwick (1976: 58), should not only remove prejudice, it should provide the ideals which inspire the life of the ordinary citizen.Aknowedge of history enhances the understanding of literature, and doubles the pleasure of travel”.
            Diluar negeri, seeprti di AS,perkuliahan yang berjudul Sejarah dan Sastra (History and Literature) sudah lama dikembnagkan. Kuliah tersebut dikelola di Departemen Sejarah atau Depatemen Sastra.Para pengembangnya adalah dosen yang betul-betul berkualifikasi S3 dengan spesialisasi Sejarah dan Sastra, bahkan sudah guru besar dan emeritus.
            Cobalah anda perhatikan deskripsi Sejarah dan Sastra yang dikembangkan di jenjang S1 dengahn kelas yang dibatasi untuk 15 orang mahasiswa saja: “Kuliah ini yang disajikan dalam bentuk seminar akan menjajagi Progress/kemajuan/perkembangan yang disertai oleh permasalahan dan paradox dalam Sejarah dan Sastra Eropa sejak Zaman Pencerahan/Aufklarung. Pendekatannya komparatif, dengan konsentrasi bahan dari inggris, Perancis dan Jerman dalam bentuk novel, puisi dan drama dari para penulis/pengarang seperti Tennyson, Victor Hugo, charles Dickens, Thomas Mann dan Albert Camus; serta diperdalam dengan karya-karya  di bidang politik, social, budaya dan filsafah seperti karya Immanuel kant, Condorcet, August Comte, fourier, freud dan para sosiolog dari mazhab Sekolah Frankfurt”.
            Cobalah Anda bandingkan dengan mata kuliah Sejarah dan Sastra yang diberikan di program Pascasarjana, dengan topic : “Perbudakan dan Pembebasannya di Dunia Atlantik Modern” : “Di kalangan generasi mutakhir para pakar telah melakukan pemahaman yang revolusioner mengenai perbudakan dan pembebasannya. Perubahan ini terjadi karena pergeseran besar dalam bidang metodologi, yakni melihat sejarah kaum budak dari kacamata mereka sendiri dan bukan dari sudut pandang para pemiliknya (Emic). Kuliah ini akan mengkaji sejarah “Atlantik Hitam” melalui rentangan beragam karya budaya, seperti puisi, pamphlet, perkara di pengadilan, petisi, otobiografi, novel, pidato, khotbah di gereja, yang disampaikan oleh para budak-budak yang dimerdekakan, kaum abolisionis, dari zaman revolusi sampai emansipasi (keluarnya UU Hak Sipil tahun 1961).
            (http://webdocs.registrar.fas.harvard/courses/Historyandliterature.html). Latihan : Cobalah Anda sendiri menyusun deskripsi perkuliahan Sejarah dan Sastra untuk keperluan kita sendiri!
Contoh Penggunaan Sastra dalam Sejarah
            Berikut ini contoh bagaimana menggunakan karya sastra di dalam memberikan pengayaan, penghalusan, pendalaman pengalaman terhadap peristiwa sejarah: Peristiwa sejarahnya adalah suatu episode dalam sejarah perang kemerdekaan Indonesia (1945-1950), tepatnya segera setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, disusul oleh kedatangan Sekutu yang di belakangnya menumpang dating Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Terjadi konflik terbuka antara NICA/tentara Belanda dengan pihak Indonesia (BKR, barisan perjuangan, pemuda, waktu itu belum ada TNI). Betapa sengitnya pertempuran dan berate jumlah korban yang jatuh, dalam kondisi yang bagaimana, hal-hal itulah yang dapat diperjelas dan dirasakan suasana batin semangat perjuangan untuk berkorban, bahkan untuk berkorban jiwa, dapat dirasakan dalam kumpulan sajak-sajak Chairil Anwar (1993, Ed. Cet. III) yang berjudul “Deru Campur Debu”.
            Perhatikan dan baca misalnya sajak pertama yang berjudul “Aku”. Cobalah Anda simak! Bukankah Anda merasakan jiwanya yang memberontak? Bahwa “aku” adalah binatang jalang? Apa kiranya maksud penulis? Bahwa “aku” di sini sedang berjuang, Di medan pertempuran tampak dalam kalimat: “Biar peluru menembus kulitku” dan “Luka dan bisa kubawa berlari”. Cobalah Anda ungkapkan dengan kalimat sendiri! Dapatkah Anda merasakan jiwa dan semangat perjuangan dalam sajak ini?
            Dengan cara yang sama, cobalah And abaca sajak yang berjudul “Selamat Tinggal” dan “Catetan Tahun 1946”. Kemudian Anda cari juga sajaknya yang berjudul “Antara Karawang dan Bekasi” ! Dapatkah Anda merasakan nafas perjuangan dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan?
            Demikianlah, sajak-sajak Chairil Anwar mampu melukiskan gejolak jiwa pejuang serta suasana dan jiwa perjuangan kemerdekaan waktu itu, yang Anda semua sudah luput dari jiwa zaman/Zeitgeist tersebut, karena Anda dilahirkan pada masa sesudahnya.
            Berikut adalah contoh dari Sejarah Eropa, bagaimana novel dapat memberikan visualisasi tentang kehidupan abad pertengahan dan menghidupkan kembali suasana gereja dan biara dalam pergolakan yang akan mengakhiri zaman gelap ini dengan gambaran Zeitgeist yang tepat dan akurat.
            Novel yang berjudul “The Name of The Rose” (2008) yang ditulis oleh Umberto Eco ini menceritakan memoir dari perjalanan seorang biarawan fransiskan muda yang mendampingi gurunya seorang rahib inggirs dalam tradisi intelektual Oxford, ke sebuah biara Benediktin Melk, di Perugia, untuk menyelidiki perkara pembunuhan. Kisah yang kompleks ini penuh dengan informasi mengenai kehidupan biara/gereja Abad Pertengahan (di dalam buku melukiskan kehidupan abad ke 14) di Eropa, yang disajikan dengan cerdas dalam suasana aliran pemikiran yang mencerminkan pola piker spekulatif dari Universita Paris dan pola empiric dari Universitas Oxford. Digunakannya banyak rujukan dari beragam sumber, mulai dari kitab suci Injil, pikiran para teolog, filsafah yunani (Eco, 2008 : xv), dan disebut dengan istilah intertekstual, adalah dampak dari aliran sastra postmodern.
            Aspek lain yang menarik adalah caranya Eco memperkenalkan logika berpikir abduksi, yang terdiri dari aturan umum dan akibat untuk kemudian menarik kasus dan menghasilkan probabilitas, di samping logika berpikir deduksi yang terdiri dari aturan umum dan kasus kemudian menarik kesimpulan secara deduktif dan menghasilkan validitas logis, dan logika induksi yang terdiri dari kasus dan akibat dengan kesimpulan aturan umum serta menghasilkan probabilitas (Eco, 2008 : xviii).
            Untuk memahami deskripsi yang panjang, mendetail, kompleks yang untuk pemahaman orang awam sulit untuk dimengerti, Eco menggunakan semiotika  sebagai alat penafsiran. Semiotika adalah metode penafsiran yang bisa memberikan penafsiran yang bisa memberikan penjelasan, sekaligus menjernihkan, memurnikan persepsi, yang selama ini dianggap sebagai normal, logis, natural, atau dalam kata lain membongkar stereotype. Dengan menggunakan metode semiotic, dibuka kemungkinan untuk memahami berbagai bentuk ekspresi budaya atas namanya sendiri, tidak dipengaruhi oleh pendapat umum yang sudah didominasi oleh ideology-ideologi yang dominant (Sunardi, 2004 : xvi).
            Salah satu aspekhistoris dalam novel ini adalah ditampilkannya bukti silang budaya antara Islam dan Kristiani yang mengembalikan karya-karya klasik Yunani melalui kajian para ffilsuf dan pakar Arab kembali ke tangan para filsuf dan pakar Barat dengan menterjemahkannya dari bahasa Arab ke bahasa latin. Hal tersebut dideskripsikan melalui bahasan tentang perpustakaan biara di Melk yang luas dan kompleks, - dan karenanya disebut labirin - , yang kaya dengan dokumen-dokumen kuno, antara lain karya dari Averroes (Ibn Rushd) seperti misalnya tentang Ethics, Poetics dan Rhetoric dari Aristoteles (Eco, 2008 : 542-dsl.), dan karya-karya para sarjana Arab lainnya.

Masalah Analisis
            Mata kuliah yang menggabungkan sua disiplin ilmu ini dalam analisisnya memakai pendekatan multidisiplin, karena baik Sejarah sebagian daari sekelompok ilmu social maupun sastra yang merupakan bagian dari kelompok Humaniora, masing-masing dalam analisisnya menggunakan pendekatan multi disiplin.
            Anda sebagai Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah semester IV atau VI, tentu sudah biasa dan akrab dengan analisis Sejarah, maka dalam bahasan ini analisis sastra lah yang akan dibahas terlebih dahulu.

Analisis Sastra
            Analisis sastra biasanya terdapat dalam atau tergabung dalam kritik sastra. Apabila dijabarkan, maka kritik sastra adalah kajian, diskusi tentang, evaluasi terhadap, atau penafsiran tentang sastra. Kritik sastra modern seringkali menggunakan teori-teori sastra, yang merupakan diskusi filosofis mengenai metode dan tujuan. Hal ini disebabkan karena banyak kritikus sastra beranggapan, bahwa dalam kritik sastra bisa sekalian diaplikasikan teori-teori sastra, karena kritik sastra selalu berhubungan dengan karya sastra, paling tidak dilihat dari sudut pandang teori.
            Kritik sastra modern seringkali diterbitkan dalam bnentuk essay atau buku, karena pada umumnya ditulis oleh para akademisi yang biasa mengajar atau meneliti yang hasilnya dilaporkan di dalam jurnal penelitian yang selanjutnya diterbitkan sebagai sebuah buku.
            Di Barat, yang biasa mencatatkan sebagai peristiwa sejarah, kritik sastra pertama kali dilakukan oleh Aristoteles (Abad ke 4 M) terhadap karya Plato (gurunya sendiri) yang berjudul Poetics. Di zaman Abad Pertengahan kritik dilakukan terhadap teks yang isinya bahasan tentang agama. Tradisi kritik berupa diskusi panjang hermeneutika terhadap teks-teks agama berpengaruh kemudian terhadap kritik terhadap teks-teks yang sifatnya sekular. Hal ini terutama berlaku dalam tradisi agama-agama ibrahimiah seperti  Yahudi, Kristiani dan Islam.
            Di zaman Renaissance, kritik sastra berkembang ke arah bentuk neoklasik dengan mengedepankan peran sastra sebagai pusat dari kegiatan kebudayaan, dan penulis puisi atau prosa diabadikan dengan tradisi penghormatan yang panjang. Pada abad ke 19, ada gerakan romantik di Inggris yang memperkenalkan gagasan estetika baru, yng mencakup pendapat bahwa objek sastra tidak selamanya harus cantik, mulia dan sempurna, yang penting adalah sastra itu sendirilah yang harus mampu mengangkat topik bahasan yang biasa itu ke tingkat yang sublim. Aliran romantic juka mulai menghargai unsur humor/lucu yang cerdas (wit) dalam sastra, tidak hanya bahasan yang serius saja.
            Karya sastra Barat yang mendukung sejarah dari periode ini banyak yang digemari pembaca/peminat Indonesia. Misalnya, karya-karya di sekitar kehidupan Henry VIII yang dikenal dengan ”Si Janggut Biru” dan putrinya Ratu Elizabeth pertama, karena banyak menjelaskan perkembangan Inggris waktu itu yang sedang tumbuh sebagai Negara adidaya dalam kekuasaan kolonial dan di lautan. Di Perncis, novel yang banyak mengandung sejarah adalah di sekitar kehidupan napoleon Bonaparte, baik yang berhubungan dengan Revolusi Perancis (1789) maupun pengaruhnya terhadap dunia. Contohnya, adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul ”War and Peace” yang sudah dibuat filmnya dengan judul yang sama.
            Dari Amerika, perang saudara abtara Utara dan Selatan (1851-1855) menjadi sumber ilham bagi banyak penulis novel. Antara lain karya margaret Mitchel yang berjudul (Gone With the Wind), sudah dibuat filmnya dengan judul yang sama. Buku/film ini berhasil menampilkan kehidupan hitam-putih kaum budak yang berkulit hitam versus pemiliknya, para tuan tanah kulit putih yang bertani kapas.
            Pada abad ke 20, analisis atau kritik sastra yang berdasar kepada teori, antara lain yang melihat adanya pengaruh ideologi ke dalam karya sastra banyak dipakai, walaupun analisis atau kritik sastra yang konvensional masih dipertahankan. Aliran kritik sastra baru juga bermunculan, karena keterbukaan untuk menggunakan beragam metode dan tujuan. Yang mutakhir adalah sastra yang membahas golongan minoritas, kajian gener, kajian ekologi, atau karya populer seperti komik dan fiksi pulp. Kajian gender dalam sastra yang akhir-akhir ini  sangat produktif, mendorong munculnya teori-teori feminisme dan kritik sastra-gender, yang banyak didukung sosiologi. Banyaknya karya eko-sastra membutuhkan juga analisis eko-kritik, yang menghubungkan sastra dengan ilmu pengetahuan alam (www://en.wikipedia.org./wiki/Literature_analysis (16/3/2009).
            Pada dekade tahun 1980-an aliran estetika dalam filsafah yang disebut postmodernisme mulai berkembang, yang pengaruhnya masuk juga je dalam sastra. Salah satu diantaranya yang terlahir dalam sastra adalah teori dekonstruksi dari Jacques Derrida (1966, 1978). Termasuk juga ke dalamnya adalah kritik sastra postkolonial, antara lain dari gayatri Spivak (gandhi, 1998: Morton, 2008).
            Salah satu bentuk kritik sastra kolonial adalah kritik yang diajukan oleh Edward Said dalam bukunya ”Orientalism” (1978). Pokok penting yang diajukannya adalah mengenai oposisi binarian ”Barat” versus ”Timur” dalam hubungan dominasi imperialisme Barat terhadap Timur dalam hal ini Dunia Ketiga. Dalam konteks ini, analisis sastra kolonial dapat dilakukan dengan mengambil karya sastra berbentuk buku atau film untuk dianalisis. Sebagai contoh, misalnya buku karya E.M. Forster berjudul ” A Passage to India”. Buku ini sudah dijadikan film dengan judul yang sama. Bukunya adalah tergolong sastra yang kental relevansinya dengan sejarah. Filmnya adalah media pembelajaran sejarah yang menggambarkan hitam-putihnya kolonialisme, atau oposisi binarian Barat vs. Timur, dalam prakteknya Inggris di India.
            Menulis adalah kegiatan intelektual yang menggairahkan! Juga merupakan proses yang menuntut kemahiran bahasa dan pemikiran yang luas. Sebaliknya dari pandangan penulis yang merupakan unit kreatif yang terisoler, menulis adalah proses sosial yang mencakup latar belakang, warisab budaya dan lingkungan sebaya yang ikut mempengaruhi pemikiran penulis dan masuk ke dalam hasil karyanya.
            Maka berdasarkan filsafah menulis seperti di atas, cobalah baca atau simak film yang akan Anda analisis, dan perhatikan aspek-aspek berikut:
v  Identifikasi tesis yang penulis/pembuat film angkat, juga retorika, asumsi, prasangka mereka dalam konteks sejarah, sosial dan budayanya;
v  Ajukan pertanyaan berdasarkan gagasan dan asumsi kita sendiri tentang isu-isu yang diangkat penulis/pembuat film.
v  Buatlah inkuiri dengan menggunakan ”Kritik Orientalisme”, yang memakai dekonstruksi dalam membaca buku/film ini, dan melepaskan koneksi antara kuasa (power) dengan ilmu pengetahuan dalam wacana kolonial;
v  Dengan melatih diri dalam menganalisis secara dekonstruktif, maka para mahasiswa melakukan kegiatan yang biasa disebut sebagai berpikir kritis, yang disebut sebagai ”praktek pembebasan” (liberating practise).

Cobalah latihan ini:
      Bagaimana membaca sebuah teks dan menentukan pokok bahasan dan sub-bahasannya.
      Bagaimana memeriksa bentuk argument dan buktibukti yang diajukan penulis dalam buku/film
      Bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat agar dapat menggali asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik peristiwa/kejadian tertentu yang tercantum dalam buku/film?

Marilah kita periksa lahi apa yang kelas kita pernah diskusikan bersama pada waktu membaca buku karangan Pramudya Ananta Toer yang berjudul ”Bukan Pasar malam” (2006, Pen. Lentera Dipantara).
Kelompok yang bertugas presentasi mengajukan beberapa pokok bahasan penting dari buku ini, antara lain:
|  Perjalanan ”Aku” dari jakarta ke Blora, untuk menjenguk ayahnya yang sakit,
|  Perjalanan kereta api itu terjadi pada pasca revolusi (1951),
|  Alur waktu cerita disajikan secara ”retrogesif”,
|  Dialog terjadi antara “Aku” dengan “Bapa” dan “Aku” dengan “AKU”,
|  Kondisi sosial-ekonomis Bapa dan Keluarga
|  Kondisi sosial-ekonomis Blora dan Keluarga

            Makna judul buku dijelaskan kelompok penyaji sesuai dengan penjelasan yang terdapat pada rujukan di depan bab pertama, yang mengemukakan penderitaan dan kematian Bapak yang dialami sendiri waktu dilahirkan dan juga waktu kematian, dan tidak beramai-ramai bersamaan dengan orang lain seperti di pasar malam.
            Penulis buku yang menggunakan kata ganti pertama ”Aku” supaya akrabdi tangan pembaca, melukiskan kehidupan ayahnya yang pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar dan sederhana hidupnya. Ayahnya tidak tergiur oleh tawaran jabatan anggota parlemen yang tentu akan lebih terjamin hidupnya apabila ia meu menerima, akan tetapi diragukan kejujuran dan ketulusannya dibandingkan dengan tugas seorang guru yang jelas berguna dalam mendidik murid-muridnya.
            Idealisme yang dimiliki seorang guru ini dikagumi oleh audience kelas, karena pada masa kini yaitu waktu para mahasiswa mengamati begitu banyak orang berlomba-lomba berambisi menjadi calon anggota legislatif agar meiliki kehidupan yang lebih baik, sungguh memberikan gambaran yang sebaliknya.
            Penderitaan penghidupan keluarga seorang guru sekolah dasar di Blora pada waktu sekitar revolusi dijelaskan dengan kematian adik penulis buku pada waktu kecil, disebabkan penyakit TBC. Kelompok menjelaskan, bahwa penyakit ini yang mudah menular, terutama disebabkan oleh gizi buruk, yang ternyata juga diderita oleh ”Bapak” dan menjadi penyebab kematiannya.
            Peserta diskusi menanyakan kondisi Blora pada umumnya. Inilah kesempatan kelompok penyaji mengaitkan sastra dengan sejarah, dengan menjelaskan kondisi sosial ekonomis Blora, yang sejak zaman penjajahan Belanda terkenal sebagai daerah perkebunan jati, dengan tanah yang terdiri dari bukit karang yang sulit untuk dijadikan daerah pertanian padi/sawah. Petani perkebunan jati terkenal dalam sejarah sosial sebagai penderita kemiskinan struktural, dan Blora dulu menjadi basis gerakan sosial petani yang disebut “Pemberontakan Samin Soerosentiko”.
            Yang diragukan kelompok  penyaji adalah bagian yang melukiskan dialog antara aku dengan “aku” dalam buku tersebut. Dalam analisis sastra sudah dikemukakan di atas, bahwa pendekatan multidisiplin biasa digunakan. Fasilitator menjelaskan, bahwa kemungkinan pendekatan yang perlu dipakai adalah teori psikoanalisisnya freud, yang menggambarkan dialog antara “Ego” dengan “Alter Ego”nya sang penulis. Apa yang baik dan yang buruk diperdebatkan dalam diri penulis, yaitu antara Ego dengan Alter Egonya.
            Kelompok penyaji kemudian mengambil kesimpulan dari buku ini, bahwa gambaran yang disajikan mengenai kehidupan rakyat di pulau Jawa sesudah revolusi, khususnya di Blora, sangat susah. Pengobatan ayahnya yang sakit TBC di rumah sakit seadanya, sampai akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menemui ajalnya. Memang kondisi umum Indonesia, pasca Perang Dunia II dan revolusi masih sangat darurat, termasuk di bidang makanan dan kesehatan. Obat-obatan sangat terbatas, apalagi untuk penyakit TBC yang membutuhkan obat antibiotik Streptomycin, yang waktu itu belum ada, bahkan mungkin belum ditemukan. Para mahasiswa yang umumnya kelahiran tahun 1990-an tidak bisa memahami kondisi makanan dan kesehatan seperti itu. Lagi-lagi karena kesenjangan rentang waktu dan jiwa zaman.
            Yang juga didiskusikan pada waktu akhir, adalah tentang penulis sendiri. Pramudya Ananta Toer, dikenal mahasiswa hanya pada periode kekinian. Mereka hanya mengenal Pram melalui karya-karya Pulau Burunya (Tetralogi Bumi manusia, dsl.), untuk kemudian mereka mencari karya-karyanya waktu revolusi. Dikotomi waktu Pram menjadi anggota Lekra dan dibuang ke Pulau Buru pada masa pemberontakan PKI 1965 hanya mereka ketahui melalui wacana (Hilmar Farid, dalam Nordholt, Purwanto, dan Saptari, 2008).
            Ternyata mengenai sejarah sastra Indonesia, yang dimulai sejak Balai Pustaka dan selanjutnya, hanya sedikit yang mereka ketahui. Karena kondisi pengaruh globalisasi, dan karena usia, wacana sastra yang disukai mahasiswa dan dibaca, menunjukkan kecenderungan yang mengarah kepada yang sedang “trend” waktu ini saja.
            Sedemikian kayanya khazanah sastra domestik atau sastra dunia yang mendukung pembelajaran sejarah, dengan tujuan memperhalus budi, memperdalam pemahaman, memberikan gambaran yang lebih jelas, sehingga sejarah sebagai pendidikan nilai mampu menanamkan kesadaran kemanusiaan, serta m,enempa dan membentuk keperibadian peserta didik.

1 komentar:

  1. Kami CEO Miheal perusahaan pinjaman Finanacial saat memberikan pinjaman kepada semua pemohon kami. Kami membantu dalam urusan keuangan Anda, meningkatkan bisnis Anda, membayar utang Anda. Jadi jika Anda tertarik untuk memperoleh pinjaman dari kami hubungi kami di michaelfinancialloanfirm2@gmail.com

    BalasHapus