Kamis, 22 Desember 2011

Rumah Bocor Sang Pemimpin Bangsa

Haji Agus Salim mampu memahami dan memaknai arti belajar. Haji Agus Salim sangat memahami arti penting dari pendidikan. Dia belajar keras siang malam bukan hanya untuk memajukan dirinya sendiri, namun untuk kemajuan bangsa Indonesia yang pada saat itu terbelenggu penjajahan. Haji Agus Salim cukup memahami mulianya mencari ilmu dan memahami bahwa ilmu atau pendidikan dapat  menerangi jalan hidup manusia, terutama dapat menerangi jalan bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penjajah. Haji Agus Salim merasa lebih hidup dengan ilmu.
            Haji Agus Salim mengajarkan kita untuk selalu percaya diri dan tidak rendah diri. Begitu terpesonanya para delegasi atau duta besar dari negara-negara di Asia dan Eropa serta Amerika melihat bagaimana Haji Agus Salim berpidato di PBB maupun berdiplomasi. Haji Agus Salim memahami benar bahwa semua manusia diberikan kemampuan yang sama oleh Allah SWT, baik dia kulit putih, kuning, maupun merah. Asal manusia tersebut mau untuk belajar dan terus belajar untuk menyempurnakan dirinya.
            Haji Agus Salim terkenal dengan ucapan leiden is lijden (memimpin adalah menderita) sebuah pepatah yang sudah kita lupakan. Memimpin adalah menderita, memimpin adalah melayani, tinggal menjadi slogan pada masa sekarang. Bagi Haji Agus Salim,. menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan untuk rakyatnya, bukan ingin dilayani oleh rakyatnya.
            Haji Agus Salim mengajarkan hidup yang sederhana. Meskipun beliau adalah salah seorang penjabat tinggi negara, beliau tidak hidup dalam gelimang harta. Selama hidupnya, Haji Agus Salim hanya tinggal di rumah kontrakan. Haji Agus Salim, misalnya, yang kemudian “mendidik” politisi-politisi besar Islam seperti M. Natsir, dan Mr. Moh. Roem, sepanjang hidupnya, bekas Menteri Luar Negeri RI yang pertama ini tak pernah mampu mempunyai rumah milik sendiri. Dengan kata lain, Haji Agus Salim sepanjang hidupnya hanya tinggal di rumah kontrakan saja.
            Meskipun demikian, hidup yang sederhana tidak menghalangi Haji Agus Salim untuk hidup bahagia. Ia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang bagaimana bisa merasakan kebahagiaan di tengah hidup yang susah. Pada suatu hari hujan sangat lebat sekali, rumah kontrakan Haji Agus Salim yang sederhanapun banyak yang bocor. Haji Agus Salim tidak mengeluh dengan keadaan tersebut, ia malah membawa tempat untuk menampung air yang bocor tersebut. Lalu dia mengajak anak-anaknya untuk membuat perahu-perahuan dari kertas. Haji Agus Salim dan anak-anaknya tetap bisa bergembira di tengah rumah yang bocor tersebut.

Beginilah Cara mereka mencintai tanah airnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar