Kamis, 22 Desember 2011

Misi DIplomatik Para Pemula

Pada awal kemerdekaan Indonesia, diplomasi diperlukan karena banyak negara di dunia yang tidak mengetahui jika Indonesia telah merdeka. Hal ini dikarenakan berita-berita Indonesia, masih kalah bersaing dengan berita-berita yang disiarkan Belanda di forum-forum internasional. Pada kurun waktu 1947, telah dilaksanakan begitu banyak usaha diplomasi. Para diplomat Indonesia yang Berjuang dengan jalur diplomasi antara lain Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, diantaranya A.R. Baswedan (Menteri Penerangan RI), Rasyidi (Sekretaris Jendral Kementrian Agama), Dr. Mr. Nazir St. Pamunjtak
Haji Agus Salim sebagai pimpinan delegasi diplomat Republik Indonesia, menghadiri Konferensi Antar Asia di Delhi  pada  bulan Maret tahun 1947. Misi diplomatik yang dibawanya yaitu berusaha untuk memperoleh pengakuan kedaulatan dan dukungan dari negara-negara di Asia.
Para diplomat Indonesia menggunakan dua cara dalam misi diplomatiknya ini. Pertama, cara penghimbauan, permohonan untuk pengertian dan simpati negara-negara di Asia, dan kedua, dengan cara membentangkan keuntungan yang didapat jika negara-negara di Asia mau mengakui kedaulatan Indonesia. Jika diplomat Indonesia memakai dua cara ini, maka hal itu menjadi suatu hal yang wajar, karena pada saat itu Indonesia berada posisi yang lemah. Penggunaan cara penghimbauan, permohonan  pengertian dan  simpati,  akan lebih dimengerti oleh bangsa-bangsa di Asia yang mempunyai latar belakang historis yang sama dalam hal penjajahan.
            Setelah menghadiri Konferensi Antara Asia di Delhi, misi diplomatik RI dilanjutkan dengan kunjungan diplomatik menuju negeri-negeri Arab, seperti ke Mesir, Siria, Yaman, Irak, Arab Saudi, Lebanon dan juga ke Afganistan. Kunjungan diplomatik Haji Agus Salim ini adalah merupakan strategi dalam mencari dukungan ke negara-negara Islam, karena Indonesia dan negara-negara Arab ini mempunyai kesamaan, yaitu penduduknya mayoritas beragama Islam. Sebagai duta keliling RI, Haji Agus Salim berbicara tentang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya (Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan, 1980: 48).
Selain rangkaian misi diplomatiknya, Haji Agus Salim juga masih menghadapi serangkaian upaya diplomasi lainnya. Perannya yang cukup besar adalah dalam pembentukan Komisi Tiga Negara. Di New York, Sutan Syahrir dan Haji Agus Salim berbicara dalam sidang Dewan Kemanan PBB. Mereka mendesak PBB untuk membentuk panitia pemisah dalam persengketaan Indonesia-Belanda ini. Saat itu untuk pertama kalinya wakil RI berbicara di forum internasional.
Pihak Belanda tentu saja berusaha untuk menghalangi, tetapi mereka tidak berhasil, Sutan Syahrir dan Haji Agus Salim dapat menyadarkan PBB. Atas usaha mereka, dibentuklah Komisi Tiga Negara (KTN), yang terdiri dari Belgia, Australia dan Amerika Serikat. (Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan, 1980: 49). Dengan  pembentukan KTN, maka langkah Indonesia menuju pada pengakuan kedaulatan sudah semakin dekat. Dengan perantaraan Komisi Tiga Negara (Australia, Amerika Serikat dan Belgia), pertikaian antar Indonesia-Belanda ditengahi, yang menyebabkan terlaksananya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada 1949. Konferensi Meja Bundar berakhir pada 27 Desember 1949 dengan tercapainya pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia.
Kemahiran Para Diplomat dalam berdiplomasi tidak usah diragukan lagi, termasuk didalamnya proses melobi (lobbying). Kekuatan melobi dalam kegiatan diplomasi tidak bisa dianggap upaya sebelah mata, kadang dengan suasana yang tidak formal, maka melalui pendekatan melobi, lawan bicara kita, akan lebih mengerti dan menerima pendapat kita. Hal itu dikuatkan oleh pendapat Mohamad Roem (1972: 216-218) :
[…] Kita bangsa Indonesia baru sadja mengindjakkan kaki dalam lapangan diplomasi. Mereka menemukan seorang seperti Hadji Salim dan yang lainnya jang mahir dalam beberapa bahasa Europa Barat, dan bertjakap-tjakap dengan diplomat-diplomat tingkatan atas mereka, seolah-olah diplomasi bagi bangsa Indonesia suatu pekerdjaan jang djuga sudah didjalankan berabad-abad.

Beginilah Cara mereka mencintai tanah airnya.

1 komentar:

  1. segala ketentuan adalah milik Allah, manusia hanya wajib berusaha.
    Haji Agus Slaim bersama rekan-rekannya dalam misi diplomasi yang pertama mereka untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda sangatlah mengesankan, karena mereka bisa meyakinkan dan menegaskan kepada negara-negara Asia tenggara dan barat daya untuk mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia, dan bukan hanya itu, merka pun bisa mendesak PBB untuk membentuk komisi tiga negara (KTN) yang terdiri dari Australia, AS, dan Belgia untuk menengahi konflik Indonesia-Belandan dan pada akhirnya belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
    saya pikir mengapa Haji Agus Salaim dan rekan-rekan nya berhasil dalam misi diplomasinya yang pertama adalah mereka loyal terhadap Indonesia dan masyarakatnya, mereka mencurahkan segala kemampuan mereka untuk indonesia dan rakyatnya mencapai kemerdekaan yang nyata. mereka mengorbankan segala yang mereka miliki untuk kemerdekaan Indonesia.

    BalasHapus