Kamis, 22 Desember 2011

Bagaimana Haji Agus Salim Belajar

Agus Salim sulit untuk belajar di rumah, menurutnya, jika belajar di rumah selalu saja diganggu. Ia disuruh orang tuanya untuk mengerjakan hal-hal yang biasanya ada di dalam keluarga atau kerap diajak teman-temannya untuk bermain. Lalu Agus Salim menemukan cara yang unik untuk menghindari gangguan-gangguan tersebut. Siang hari setelah makan, diam-diam ia naik ke atap rumah, lalu mengkaji kembali pelajaran yang telah di dapatnya hari itu dan pelajaran untuk besok. Agus Salim membuka beberapa genteng karena di dalam atap rumah gelap sehingga cahaya dapat dengan leluasa untuk masuk. Selesai belajar, Ia menutup kembali genteng itu, lalu turun. Selanjutnya Ia membantu pekerjaan orang tuanya di rumah, atau pergi bermain dengan teman-temannya.
Haji Zaenal menuturkan bahwa Agus Salim pernah berkata kepadanya: ‘’hati tak enak kalau tak belajar lebih dulu’’, suatu ungkapan yang sangat patut untuk ditiru. Cara belajar yang unik ini berlangsung cukup lama dan pernah menyebabkan kehebohan di rumah. Suatu hari, setelah selesai belajar, Agus Salim lupa untuk menutup genteng yang biasa dibukanya, hal ini terjadi karena Agus Salim buru-buru mengikuti ajakan teman-temannya untuk bermain. Tak disangka, pada hari itu hujan turun dengan deras, sehingga menyebabkan kebocoran. Orang-orang di rumah berusaha untuk mencari penyebabnya, setelah ketahuan bahwa ada beberapa genteng yang terbuka, dengan segera, seluruh keluarga tahu siapa penyebab kebocoran di rumah. Agus Salim yang baru pulang setelah bermain dengan teman-temannya, hanya bisa tersenyum sambil berkata: ‘’Rasailah, maka jangan suka menyuruh-nyuruh terus kalau saya lagi belajar’’.
Agus Salim memang dikaruniai otak yang cerdas. Salah satu keistimewaannya adalah kemampuannya mengerti dan mempergunakan berbagai bahasa asing (poliglot). Dengan tekun Agus Salim mempelajari dan memperdalam pengetahuannya dalam bahasa asing secara aktif, seperti dapat berbahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Arab, Turki, disamping bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda dan lain-lain. Baginya mudah untuk berbicara dengan mempergunakan berbagai bahasa dalam waktu yang sama. Pengetahuan yang luas dalam bahasa ini sangat menunjang kegemarannya membaca. Hal ini sangat sesuai dengan semboyannya, bahwa bahasa adalah kunci ilmu pengetahuan. Kecerdasan Agus Salim tidak didapatkan begitu saja, pada suatu waktu Haji Agus salim pernah mengatakan bahwa orang jangan melihat kecerdasannya dari nilai-nilainya yang tinggi saja, tapi lihatlah bagaimana kerasnya dia belajar.
Agus Salim memiliki minat yang besar untuk melanjutkan pendidikannya. Keadaan demikian, membuat salah satu gurunya ada yang mengusahakan agar Agus Salim mendapat beasiswa ke sekolah kedokteran, yaitu School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Selain itu, demi mengejar cita-citanya, Agus Salim berusaha untuk mendapatkan beasiswa ke negeri Belanda.  Tetapi semua usaha itu gagal, sehingga beritanya terdengar oleh Raden Ajeng Kartini.
 Raden Ajeng Kartini ditawari beasiswa ke negeri Belanda oleh pemerintah. Namun, adat kebudayaan bangsa Timur belum memberikan keleluasaan kepada kaum wanita dan tidak lama lagi ia akan menikah. Oleh karena itu, Raden Ajeng Kartini memberikan pertimbangan dan saran kepada pemerintah agar beasiswa tersebut diberikan kepada Agus Salim. Dalam surat  kepada temannya yang bernama Ny. Abendenon (istri pejabat tinggi Belanda bidang pendidikan), Kartini menumpahkan cerita mengenai Agus Salim, berikut cuplikan suratnya :
24 Juli 1903
Saya punya suatu permohonan yang penting sekali untuk Nyonya, tapi sesungguhnya permohonan ittu ditujukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya?.
Kami tertarik sekali kepada seorang pemuda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah di HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!.
Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya Cuma F 150.- sebulan.
Jika dikehendaki, rasanya ia mau bekerja sebagai kelasi di kapal, asal saja boleh ia berlayar ke Negeri Belanda.
Tanyakan pada Hasim tentang anak muda itu. Hasim kenal dia; pernah mendengar anak muda itu bicara di STOVIA. Nampaknya ia seorang pemuda yang hebat yang pantas diberi bantuan.
Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan yang tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Teringat kami pada SK gubernemen tertanggal 7 Juni 1903 – SK yang begitu didambakan sebelumnya tapi kemudian ketika kami terima, dipandang dengan rasa pilu dan yang menyayat hati.
Apakah hasil sahabat-sahabat mulia, buah harapan dan doa kami akan lenyap saja, tak terpakai?.
Apakah tidak mungkin orang lain menikmati manfaatnya?, gubernemen menyediakan untuk kami berdua sejumlah uang 4800 gulden guna menyelesaikan pendidikan kami. Apakah tidak bisa uang itu dipindahkan kepada orang lain yang juga perlu dibantu, mungkin lebih banyak kepentingan daripada kami!. Alangkah indahnya andai pemerintah bersedia membiayai seluruh pendidikannya yang berjumlah kira-kira 8000 gulden. Bila tak mungkin, kami akan berterima kasih, seandainya Salim dapat menerima jumlah 4800 gulden yang disediakan untuk kami itu, untuk sisa kurangnya kami dapat meminta bantuan orang lain.
……………………………………………………………………………….
Banyak sekali yang dapat dilakukan oleh Salim sebagai dokter untuk rakyatnya. Dan sesungguhnyalah, adalah idaman Salim untuk bekerja untuk rakyat kita!.
Permohonan kami ini agak aneh, kami sadar akan hal itu, tapi kami akan memuji syukur, jika ia dapat dipenuhi!. Ibu, perjuangan yang berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya, tidak akan sia-sia dalam pandangan kami!.
Berikanlah kami rasa mujur yang nikmat, yaitu menyaksikan buah perjuangan dan penderitaan kami, tegasnya terwujud cita-cita Salim, selagi hayat masih dikandung badan.
Salim sendiri tidak tahu apa-apa; ia tidak tahu eksistensi kami malah. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dengan sepenuh hati ingin ia menyelesaikan pelajarannya, agar kemudian dapat bekerja untuk rakyatnya. Dan ia juga sadar, bahwa itu suatu idaman mustahil, karena ia tak mempunyai dana.
Kita hidup, kita berharap dan kita berdoa untuk pemuda Salim!.

Agus Salim menolak beasiswa tersebut, ia berpendirian bahwa kalau pemerintah Belanda mengirimnya ke Nederland karena desakan Kartini bukan karena niat baik pemerintah Belanda maka lebih baik tidak berangkat. Hal ini menunjukkan sikapnya yang berkepribadian teguh.
Selama 2 tahun, Agus Salim menunggu keputusan beasiswa pemerintah yang akhirnya tidak ia dapatkan. Pada akhirnya Agus Salim tidak menerima beasiswa tersebut, justru Agus Salim ditawari bekerja di dinas luar Belanda, untuk menempati posisi di Jeddah, Saudi Arabia. Agus Salim adalah orang yang mempunyai prinsip. Ia menolak bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda. Ayah Agus Salim, Sutan Mohammad Salim, memberi penjelasan, bahwa yang menawarkan pekerjaan bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan langsung di bawah pemerintah Belanda. Siti Zaenab, ibu Agus Salim, sangat mendukung apabila Agus Salim menerima perkerjaan itu. Tetapi karena keteguhan prinsip Agus Salim, maka perdebatan antara Agus Salim dan orang tuanya, khususnya dengan Sutan Mohammad Salim sering terjadi. Hal inilah yang membuat suasana rumah menjadi tidak menyenangkan, karena Agus Salim dan Sutan Mohammad Salim sama-sama memiliki sikap yang keras.
Karena kejadian ini, Siti Zaenab, merasa sedih dan jatuh sakit, hingga pada akhirnya meninggal dunia. Setelah peristiwa ini, Agus Salim akhirnya mengambil keputusan untuk bekerja sebagai ahli terjemah (dragoman) dan mengurus jemaah haji  Indonesia pada Konsulat Belanda di Jeddah untuk menghormati pesan terakhir ibunya.
Pada tahun 1906, di usia 22 tahun, Agus Salim mulai bekerja di Jeddah. Ia bekerja di Jeddah selama lima tahun. Meskipun mempunyai pengalaman bersekolah di HBS, hal ini tidak membuatnya mudah diterima di kalangan kantor pemerintah Belanda itu. Dalam bekerja, Agus Salim terus menerus ditekan oleh atasan-atasannya, karena ketika bekerja, Agus Salim banyak membela kepentingan para jamaah haji dibanding kepentingan Belanda. Selain itu, Agus Salim hanya dianggap sebagai seseorang yang berasal dari negeri jajahan. Setelah kejadian ini, Agus Salim bertekad tidak mau lagi bekerja di bawah perintah Belanda.
Selama lima tahun tinggal di Jeddah, Agus Salim memanfaatkannya untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Ia juga berguru untuk mengkaji ilmu Islam kepada Syekh Ahmad Khatib seorang ulama, imam, dan guru besar Madzhab Syafi’i di Masjidil Haram, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Dengan modal pengetahuannya yang luas serta kemampuannya dalam menguasai beberapa macam bahasa, maka dalam mempelajari ajaran agama Islam, Haji Agus Salim lebih banyak membandingkan dengan penuh kritik daripada mendengarkan fatwa guru semata. Hal inilah yang menjadikan pengkajiannya terhadap Islam dan penguasaan  bahasa Arab telah menimbulkan kesan.
Sekembalinya dari Saudi Arabia (1911), Agus Salim banyak mengalami perubahan. Dalam sejarah hidupnya, Agus Salim tidak saja dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana, politikus, wartawan dan pengarang, tetapi seorang ulama dan diplomat yang ulung. Sepulangnya Agus Salim dari Jeddah, maka Agus Salim lebih sering disebut dengan nama Haji Agus Salim.
Setelah kembali ke kampung halamannya, ia menikah dengan saudara sepupunya sendiri yang bernama Zainatun Nahar. Didikan Sutan Mohammad Salim berpengaruh terhadap cara pandang Haji Agus Salim terhadap tradisi Minang. Setelah menikah, Haji Agus Salim memutuskan untuk mencari rumah bagi dirinya dan istrinya. Seluruh kerabat di rumah mempelai wanita menyatakan keberatan terhadap keputusan yang dibuatnya. Berdasarkan adat Minangkabau yang dipegang secara turun temurun, pasangan suami istri yang baru menikah, harus tinggal di rumah orangtua si istri. Ada anggapan, sangat tidak layak apabila meninggalkan rumah orangtuanya, atau bagian rumah yang disediakan oleh pihak istri. Berdasarkan sistem matrilineal (sistem kekerabatan yang mengikuti pola keturunan dari pihak ibu), rumah selalu disediakan bagi menantu pria. Keluarga mempelai wanita, telah menyediakan rumah pusaka adat beserta isinya untuk Haji Agus Salim dan istri, dan pihak keluarga akan merasa kecewa apabila mereka akan meninggalkan tempat tersebut. Dari sini, terlihat jelas perbedaan pendapat Haji Agus Salim yang berpegang teguh dengan hukum Islam dan orang-orang yang memegang hukum adat. Setelah terjadi pembicaraan yang lama, akhirnya keluarga wanita dapat menerima pendapat Haji Agus Salim. Mereka pindah ke rumah sewaan yang sederhana, bertempat di kota yang jauh dari Kota Gadang, yaitu di Jakarta. Bagi Zainatun Nahar, keluar dari lingkungan ninik mamak ibarat melakukan langkah besar. 
Di dalam masyarakat Minangkabau, semangat untuk lebih maju didalam bidang intelektual, seperti menjadi pegawai pamong praja, dokter, guru dan lain-lain, banyak sekali peminatnya.  Sedangkan yang memiliki minat untuk menjadi ulama jauh lebih sedikit. Salah satu sebabnya karena ulama-ulama yang ada pada masa itu belum mampu menerjemahkan Islam yang sesui dengan perkembangan zaman, tetapi lebih bersifat doktrin. Menurut Haji Agus Salim, ulama-ulama tersebut hanya mengutamakan segi ibadah dan fiqih, dan melupakan segi kemasyarakatan  Hal ini menyebabkan orangtuanya menginginkan Agus Salim bekerja menjadi pegawai pemerintah setelah lulus dari HBS pada 1903.
Berdirinya Hollands Indische School (HIS) di Kota Gadang, selain sebuah tradisi berbakti dalam adat Minangkabau, juga dilandasi dari pemikiran Haji Agus Salim yang berpendapat bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Salah satu penyebab dijajahnya bangsa Indonesia oleh bangsa Belanda karena bangsa Indonesia belum terdidik. Memajukan pendidikan orang Indonesia adalah salah satu alat untuk melepaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Di sekolah yang didirikan Haji Agus Salim ini, berlaku aturan yang istimewa. Anak-anak yang yang cerdas, tetapi tidak mempunyai biaya untuk sekolah maka akan dibebaskan dari biaya sekolah. Guru-gurunya mengajar dengan sukarela, mereka tidak mendapat gaji. Pendidikan kebangsaan adalah pelajaran yang penting untuk disampaikan di dalam kelas di sekolah yang dikelola oleh Haji Agus Salim ini. Haji Agus Salim berpendapat: “Bibit kebangsaan perlu ditanamkan kepada anak-anak disamping pelajaran-pelajaran lainnya. Anak-anak yang bersekolah di sini, dipersiapkan untuk menjadi pemimpin, yang akan menggantikan pemimpin yang telah tua’’.
Setelah tiga tahun membina Hollands Indische School (HIS), maka pada tahun 1915, Haji Agus Salim menyerahkan pimpinan sekolah di Kota Gadang kepada penggantinya. Selama tiga tahun Haji Agus Salim telah meletakkan dasar yang kokoh dalam  sekolah yang berbasis pendidikan kebangsaan
beginilah cara mereka mencitai tanah airnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar