Kamis, 22 Desember 2011

Misi DIplomatik Para Pemula di Mesir

Setelah kunjungan Syahrir ke New Delhi, hubungan India dan RI ditingkatkan. Selain meletakkan hubungan politik dan  diplomatik dengan India, PM Syahrir juga menghendaki melebarkan hubungan diplomatik RI dengan negara-negara lain, misalnya dengan negara-negara Arab, karena Indonesia dengan negara-negara itu diikat oleh hubungan agama yaitu agama Islam (Dr. I Gde Anak Agung Gde Agung dalam Colin Wild dan Peter Carey, 1986: 176).
Dari sanalah Haji Agus Salim bersama rombongan berangkat menuju Kairo (Berita Indonesia, 28 Maret 1947, hlm. 1). Komposisi delegasi, juga dipandang sangat lengkap. Selain terdapat seorang politisi yang mempunyai pengalaman diplomasi seperti Haji Agus Salim, dalam rombongan itu, ikut serta ahli hukum (Mr. Nazir Pamuncak), ahli agama dan bahasa Arab (Prof. Dr. Rasyidi), ahli militer (Mayjen Abdul Kadir) dan seorang wartawan kawakan (AR Baswedan) yang juga seorang Menteri Muda Penerangan (Kompas, 10 Juni 1995, hlm. 5). Dipilihnya Haji Agus Salim untuk melobi negara-negara Arab untuk mengakui kedaulatan Indonesia adalah hal yang tepat, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Mohammad Roem (1972: 192):
Saja rasa, … pengangkatan Bapak Hadji Agus Salim sebagai Menteri Luar Negeri itu adalah tepat. Maksud jang pertama ialah untuk mentjari bantuan Negara-negara Arab. Di seluruh Indonesia ini tidak ada orang jang lebih tepat dari bapak Hadji Agus Salim, karena beliau terkenal sebagai  pemimpin rakjat, sebagai ulama, sebagai sardjana jang pengetahuannja luas dan dalam tentang agama Islam.

Tidak lama sesudah tiba di Kairo, delegasi Indonesia mengadakan jumpa pers. Sebelum acara itu dimulai, delegasi Indonesia membagikan UUD 1945 yang sudah ditulis dalam bahasa Inggris kepada peserta yang hadir. Sebagai ketua delegasi, Haji Agus Salim membeberkan sejarah dan perjuangan RI sejak zaman Belanda. Ketika itulah, tampak nyata kelincahan Haji Agus Salim dalam menjawab semua pertanyaan wartawan dalam dialog terbuka yang berlangsung, terutama dalam bahasa Arab. Sebagai seorang cendikiawan yang berpengetahuan luas, Haji Agus Salim selalu siap dengan panjang lebar membahasnya dengan cerdas, tanpa melewatkan humornya yang khas. Kekaguman A.R. Baswedan kepada kepemimpinan Haji Agus Salim sebagai ketua delegasi RI di Mesir, diungkapkannya dalam sebuah tulisan berikut:
Siapapun yang pernah bertemu dengan Haji Agus Salim dan bercakap dengan beliau, pasti mengagumi intelek yang brilyan ini, julukan yang diterimanya sejak ia muncul di medan pergerakan politik Indonesia, Kekaguman ini bukan cuma dimiliki kawan-kawannya, tetapi juga oleh lawan-lawannya. Meskipun bukan sarjana, namun kecerdasan dan ketangkasannya berbicara serta berdebat, dan bakat begitu juga kemampuannya mengusai bahasa asing – termasuk bahasa Arab – sangat mengagumkan. Begitu pula kesan dari orang-orang Mesir yang bertemu dengan beliau, padahal orang Mesir dikenal sebagai tukang ngomong, ahli debat dan silat lidah. Asyik betul kalau kita mempunyai seorang ketua delegasi semacam ini “ (Panitia Peringatan Seratus tahun Haji Agus Salim, 1984: 144).

Perjuangan para delegasi di Mesir, tidaklah mudah. Mereka menemui banyak rintangan, salah satunya adalah sulitnya bertemu dengan anggota-anggota Liga Arab, PM Nokrashi Pasha dan tentu saja Raja Farouk yang memegang kunci masalah pengakuan kedaulatan terhadap RI. Tata cara diplomatik Mesir yang sangat formal itu, harus dilalui. Beruntung sekali, delegasi Indonesia dibantu oleh Mohammad Abdul Mun’im. Ia yang mengatur semua kontak dengan pihak-pihak resmi, bahkan menurut A.R. Baswedan, seakan-akan ia adalah salah seorang delegasi Indonesia.
Selama tiga bulan berada di Kairo, delegasi RI memanfaatkan dengan baik waktu tersebut untuk menyampaikan informasi dan penjelasan mengenai RI, serta usaha Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Hal ini disampaikan delegasi Indonesia kepada tokoh-tokoh pemerintah, masyarakat, pers dan Duta Besar - Duta Besar negara-negara Arab yang berkedudukan di Kairo (Jurnal Luar Negeri No. 30 ,  Desember 1995, hlm. 135). Selain itu, sebagai duta keliling RI, Haji Agus Salim juga berbicara tentang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya (Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan, 1980: 48). 
Pada akhirnya, dengan diantar oleh Abdul Mun’im, delegasi RI menghadap Raja Farouk di Istana Qasr Abidin. Dengan ramah, Raja Farouk menerima para delegasi RI dan berkata bahwa karena persaudaraan Islam-lah, Mesir membantu dan mendorong Liga Arab untuk mendukung perjuangan bangsa Indonesia dan mengakui kedaulatan negara ini. Terbukti bahwa Raja Farouk menaruh minat dan perhatian yang besar terhadap Indonesia (Berita Indonesia, 4 September 1947, hlm. 1).
Pada tanggal 10 Juni 1947, delegasi RI diantar Abdul Mun’im menuju Kementrian Luar Negeri Mesir sekitar pukul 9 pagi untuk menghadiri upacara penandatanganan Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir. Sehari sebelumnya sudah disiarkan di koran-koran, bahwa Kabinet Mesir telah memutuskan untuk menyetujui ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan dan kerja sama di bidang sosial ekonomi dengan Indonesia.
Berita itu tentu saja mengejutkan Graaf W. C. van Rechteren Limburg, Duta Besar Belanda. Rintangan dari Duta Besar Belanda itu, cukup mengganggu gerak diplomasi delegasi Indonesia. Duta Besar Belanda itu menyatakan bahwa usaha Haji Agus Salim dan rombongannya itu melanggar perjanjian Linggarjati. Tentu saja itu adalah tafsiran Duta Besar Belanda sendiri atas instruksi pemerintah Belanda. Dr. P. J. Drooglever mengakui, Belanda yang mencoba menggagalkan penandatanganan perjanjian tersebut, ternyata tidak berhasil mengubah sikap pemerintah Mesir.
Graaf Limburg menanggapi berita kemungkinan penandatanganan itu dengan sikap sinis. Ia yakin, tidak bakal terjadi hal tersebut mengingat kepentingan dagang dan ekonomi antara kedua negara tersebut sangat besar. Tetapi ternyata perkiraan tersebut meleset, sebab Haji Agus Salim dan Nokrashi Pasha akhirnya menandatangani perjanjian itu. Ketika Graaf Limburg mengunjungi PM Nokrashi Pasha untuk mengkritik keras perjanjian itu, PM Nokrashi malah kembali mengkritik keras Duta Besar Belanda itu dan menyatakan keheranannya karena Belanda tidak mau mengakui sepenuhnya kemerdekaan dan kedaulatan RI. (Kompas, 10 Juni 1995, hlm. 5). Selain itu, PM Nokrashi Pasha menjawab sebagai negara yang berdaulat dan berdasarkan Islam, Mesir tidak bisa berkata tidak dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam, karena hal ini telah menjadi tradisi bagi bangsa Mesir.  Setelah mendengar jawaban dari PM Nokrashi Pasha, maka Duta Besar Belanda itu keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa dan berwajah masam.
Naskah perjanjian itu akhirnya ditandatangani. Haji Agus Salim menandatangani perjanjian persahabatan antara RI dengan Mesir di Kairo yang terdiri dari lima pasal dan ditulis dalam tiga bahasa, yaitu Perancis, Arab dan Indonesia. Perjanjian persahabatan itu ditandatangani oleh Haji Agus Salim sebagai wakil dari RI, sedangkan dari pihak Mesir, ditandatangani oleh PM Nokrashi Pasha, dan disaksikan oleh Dr. Nazir Sutan Pamunjtak, Rasyidi, Abdul Mun’im, A.R. Baswedan serta Dr. Kamil (Sekretaris Jendral Kementrian Luar Negeri Mesir)  (Panitia Peringatan Seratus Tahun Haji Agus Salim, 1984: 148). Selain itu, Indonesia-Mesir juga mengadakan perjanjian perdagangan.
Perjanjian persahabatan itu adalah sebuah realisasi pengakuan seluruh negara-negara Arab (Timur Tengah) terhadap RI. Hal ini adalah suatu pengakuan pertama kali yang diberikan oleh dunia internasional, meskipun seluruh dunia masih ragu terhadap kemerdekaan Indonesia, karena sebagian besar kekuatan dunia internasional berpihak kepada Belanda. Negara-negara Arab tanpa ragu-ragu sedikitpun memberikan pengakuan terhadap kedaulatan RI tanpa memperhitungkan akibat-akibat internasional (Saifuddin Zufri, 1981 : 41). Selain itu, dapat dikatakan bahwa Mesir adalah motor Liga Arab yang secara gigih membantu Indonesia memperoleh akreditasi internasional pada masa-masa sulit (Seputar Indonesia, 16 Juni 2007, hlm. 11).  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar