Kamis, 22 Desember 2011

BANTING SETIR DARI PREMAN MENJADI ULAMA


Si Malik (sebutan Hamka pada masa kecil) dikenal oleh sahabat-sahabat dan gurunya sebagai anak yang nakal. Guru-gurunya tidak berani menegur Malik yang hadir ke sekolah dan masuk kelas semaunnya saja karena faktor ayahnya Malik, yaitu Dr. Amarullah yang merupakan pemilik sekolah tersebut (Sumatra Thawalib). Dengan sifat nakal tersebut, Malik gagal melanjutkan sekolahnya di Sumatra Tawalib maupun Sekolah Dasar.
Dr. Amarullah merasa putus asa dalam mendidik anaknya, padahal dia sangat mengharapkan Malik dapat bisa menjadi seorang ulama besar. Oleh karena itu, Malik dikirimkan kepada seorang sahabatnya yaitu Syekh Ibrahim Musa Parabek. Selama berada dalam bimbingan Syekh Ibrahim, bukannya Malik berubah menjadi lebih baik, sifat nakalnya malah semakin menjadi-jadi. Selama jauh dari ayahnya, Malik tumbuh menjadi seorang yang jauh dari karakter-karakter alim. Hal tersebut dijelaskan oleh sahabat masa remaja Hamka yaitu  Mohammad Zein Hassan.
 “Selama berada dalam asuhan Syekh Ibrahim, jangankan belajar, menyentuh buku pun jarang. Daripada belajar Hamka lebih senang menjadi wasit pertandingan sepak bola, penyabung ayam, pendekar silat, penunggang kuda balap (Jockey), pergaulannya lebih banyak dengan preman daripada dengan kalangan terpelajar”.
Seperti pemuda-pemuda Minangkabau pada umumnya, jiwa petualang Hamka telah nampak semenjak usianya remaja. Merantau ke berbagai daerah merupakan upaya pembuktian diri pada orang tua bahwa dia telah dewasa, mampu mandiri dan berusaha untuk sukses. Pada usia remaja, Malik telah berkelana ke berbagai pelosok di Pulau Sumatera. Petualangan itu terhenti ketika di Sumatera Selatan Malik terkena cacar.
Buya Hamka pada masa muda, dia sangat berkeinginan untuk menjadi orang terkenal yang dipuja-puja oleh orang banyak sehingga lebih tertarik untuk menjadi tukang sabung ayam, penunggang kuda, dan pesilat, daripada belajar di pesantren dan menekuni kitab-kitab Islam yang akan menjadikannya sebagai ulama. Dengan berperan sebagai wasit sepak bola, penunggang kuda, tukang nyambung ayam dan pesilat, Hamka beranggapan bisa menjadi terkenal sesuai dengan keinginannya, daripada harus susah payah menjadi ulama seperti ayahnya, yang jangankan untuk terkenal, dengan paham pembaharuan yang dibawa ayahnya tersebut, malah akan menjadikannya banyak dijauhi oleh masyarakat Minangkabau yang pada masa itu masih terkukung oleh adat.
Pergaulan Hamka yang luas semasa remaja tanpa memandang siapa pun itu, ulama, tokoh adat, preman, pemain sepak bola, tukang nyambung ayam, ditambah dengan pengembaraannya keberbagai tempat di Sumatera yang membawanya untuk berinteraksi dengan berbagai sosok orang, telah membentuk karakter Hamka untuk terbiasa menghadapi berbagai karakter dan sifat. Petualangannya pada masa remaja telah membentuk Hamka sebagai sosok pribadi yang ikhlas, tabah, sabar dan tahan banting dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup.
Pada usia 17 tahun (1925), Hamka terkena penyakit cacar yang parah, sehingga dia kembali pada ayahnya di Padang Panjang, setelah sembuh dari sakit, Hamka bekerja di harian “Hindia Baru” sebagai koresponden (Wartawan Harian Baru yang berpusat di Betawi yang berada di Minangkabau). Saat itu, harian Hindia Baru dipimpin oleh Haji Agus Salim. Selain bekerja sebagai koresponden, Hamka pada tahun 1925 menerbitkan majalah Chatibul Ummah yang disebarkan di Desanya. Dari tahun 1926-1927, Hamka melakukan pengembaraan ke Pulau Jawa, kemudian kembali lagi ke Sumatera menuju Medan, dan pada tahun 1927 tanpa sepengetahuan Ayahnya, Hamka pergi ke Mekah.
Namun, setelah berbagai hal dilakukannya untuk menggapai tujuan tersebut, bukannya kebahagiaan yang dia dapatkan, malah tersiksanya lahir dan batin yang dirasakan. Bagaimana tidak, Hamka hampir kehilangan nyawanya karena menantang berkelahi seseorang, padahal dia baru belajar silat beberapa jurus saja. Hamka tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki ketika menjadi penyambung ayam, wasit sepak bola, ataupun penunggang kuda balapan, apalagi di Sumatera Selatan Hamka terkena cacar yang sangat parah.
Hamka nampaknya tersadarkan dengan berbagai petualangannya ke berbagai pelosok Sumatera. Dia melihat sendiri bagaimana kenyataan masyarakat yang sehari-harinya bergulat dengan kemiskinan dan penderitaan akibat penjajahan. Selain itu, dia mencoba melihat betapa rusaknya masyarakat akibat kebodohan agama dan dunia, betapa jauhnya masyarakat dari nilai-nilai Islam yang selama ini diajarkan ayahnya.
Petualangannya membawa dia pada pemahaman bahwa masyarakat harus dirubah, dan dia baru menyadari, tantang mengapa ayahnya begitu gigih dalam menyebarkan pembaharuan di tengah umat Islam. Hamka menyadari bahwa hidupnya itu akan berarti, bukan karena nama yang masyur dan pujian yang banyak, namun karena banyaknya manfaat yang dapat diberikan untuk kemajuan umat ini. Hamka juga menyadari bahwa untuk memberikan kemanfaatan bagi umat ini dia harus memiliki sesuatu yang dapat diberikan, “bagaimana kita bisa memberikan sesuatu jika kita tidak memiliki apa-apa”. Jadi Hamka banting setir menjadi ulama yang terkenal sangat produktip dan vokal pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Jepang, Orde lama dan Orde Baru sehingga harus merasakan hidup didalam jeruji besi.
Lapangan siasat bukan medanku
Aku dikenal seorang pujangga
Yang bersayap terbanglah laju
Aku kan tetap pahlawan pena
(M. Roem,1978: 8)

Puisi di atas merupakan puisi yang ditulis Hamka sebagai jawaban atas ajakan sebagian kalangan untuk aktif dibidang politik. Namun selain itu, puisi tersebut memberikan gambaran bahwa Hamka menisbatkan dirinya sebagai seorang pujangga yang berjuang lewat pena dan kata-kata. Sebutan Hamka sebagai seorang pujangga memang didasarkan karya-karyanya seperti: Mati Mengandung Malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934, Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), Merantau ke Deli (1940), Margaretta Gauthier (Terjemahan) 1940. 

Hasjmy berpandangan bahwa karya-karya sastra Hamka sangat terpengaruh  oleh para penyair seperti  Manfaluthi dan Khalil Gibran.  Para penyair tersebut menghasilkan karya-karya dengan gaya bahasa yang sentimentil, begitupula Hamka. Salah satu kelebihan Hamka adalah kemampuannya dalam menyuguhkan kisah cinta yang menyedihkan dengan setteing keindahan alam Minangkabau beserta adat istiadatnya. Selain itu, tendens agama Islam sangat mewarnai karangan-karangannya. Memang, dakwah melalui karya sastra adalah sesuatu yang baru pada masa itu.   
Karya-karya Hamka banyak memberikan gambaran tentang kepribadiannya.  Pengetahuan agama, terutama ilmu tasawuf yang telah banyak mewarnai gaya bahasanya yang sangat menyentuh hati. Itulah karakter Hamka yang sentimnetil dan romantis. Kisah kasih tak sampai sangat mewarnai dua novelnya yang terkenal yaitu Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk apakah di ilhami oleh kisah yang dialaminya. Sebagaimana yang kita ketahui pada usianya yang ke 21 tahun (1929), Hamka oleh ayahnya Dipaksa untuk menikah.   

Kemampuannya untuk menulis, turut andil dalam membesarkan namanya.  Kemampuannya sebagai pujangga yang terbiasa dalam merangkai kata-kata telah membuat dia mampu memikat para pendengarnya dalam setiap ceramah-ceramahnya. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar